Kajian Islam Makin Mendapat Perhatian Di Jepang

Posted in In Indonesian, Pencarian Islam with tags , , , , on May 5, 2008 by the28

Berikut ini artikel yang diambil dari majalah Aneka Jepang edisi 316, menarik untuk disimak.

———————-

Counsellor Kato:

Kajian Islam Makin Mendapat Perhatian Di Jepang

Pada kesempatan pembukaan Pusat Studi Jepang di Universitas Al Azhar Indonesia pada tgl. 20 April 2006, Counsellor Kato (Direktur Penerangan dan Kebudayaan, Kedutaan Besar Jepang) berkesempatan memberikan kata sambutan mengenai hubungan Jepang dan Islam dewasa ini. Berikut ini adalah cuplikan dari pokok penjelasan yang diberikan oleh Counsellor Kato.

Kajian Islam di Jepang dewasa ini makin mendapat perhatian dan berkembang cukup baik. Kalau kita melihat sejarah Jepang, terutama setelah terjadi krisis minyak pada tahun 1973-1974, ternyata makin besar rninat masyarakat Jepang untuk mendapatkan informasi tentang negara-negara penghasil minyak di TimurTengah, dan sejalan dengan itu juga agama Islam. Sebelumnya, yaitu pasca Perang Dunia Kedua, juga terjadi boom perhatian terhadap Islam, dengan tersebarnya infonmasi tentang negara-negara Asia Tenggara, terutarna Indonesia yang mayonitas penduduknya beragama Islam, termasuk cenita pengalaman orang-orang Jepang yang pernah bertugas di kawasan ini.

Dewasa ni Jepang memiliki cukup banyak pakar kajian Islam dan sejumlah pusat kajian Islam di berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian. Meskipun demikian, berita dan pengetahuan tentang Islam di kalangan masyarakat Japang boleh dikatakan belum cukup memadai, mengingat di masa lampau pengetahuan tentang Islam lebih banyak berasal dari sumber-sumber Barat yang kadang-kadang tidak begitu akurat. Hingga sekarang pun di Jepang terasa sangat kurang literatur populer tentang Islam sehingga kalangan masyarakat biasa belum bisa mengenal Islam dan dunia Islam dengan baik. Masyarakat umum di Jepang pada umumnya hanya tahu beberapa istilah saja, seperti Mekkah, Ramadhan, puasa, lebaran, shalat. . .ya baru sebatas itulah.

Kedutaan Besar Jepang di Indonesia selalu melakukan usaha untuk memperdalam saling pengertian antara Jepang dan masyarakat Muslim di Indonesia yang merupakan mayoritas. Telah beberapa kali diselenggarakan kunjungan ke pesantren dan lembaga Islam guna mernbina tali silahturahmi, mengenal masyarakat Muslim Indonesia secara lebih dekat dan sekaligus memperkenalkan berbagai aspek Jepang. Bukankah ada pepatah yang mengatakan “KaIau tak kenal maka tak sayang”. Selain itu, kami juga berupaya menjalin berbagai kerjasama dengan lembaga pendidikan Islam, melalui sejunnlah program, seperti misalnya undangan bagi para guru pesantren untuk melakukan kunjungan studi perbandingan pendidikan di Jepang, ceramah oleh pakar Jepang dan pakar Indonesia, dll. Di Kedutaan Besar Jepang juga pernah bertugas diplomat Jepang yang beragama Islam, a,I. Bapak H. Arifin Nagai, dan alm. Bapak Shoji Onishi.

Sekaranglah waktu yang paling tepat bagi Jepang untuk berupaya sebaik-baiknya rnemperkokoh hubungan persahabatan dengan rakyat dunia lslam,terutama dengan rakyat Indonesia. Hal yang menarik, ternyata kebudayaan tradisional Jepang memiliki sejumlah persamaan nilai hidup dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam, misalnya dalam soal kebersihan, etos kerja, kesopanan, kepedulian sosial, kejujuran, dll. Di bidang seni-budaya, juga dapat disebutkan hal-hal yang ada kesamaannya, seperti musik irama tambur taiko yang dapat kita sandingkan dengan rempak bedug. Seni kaligrafi berhuruf Jepang berkembang di negara kami, sementara dalam dunia Islam kita melihat banyak karya seni kaligrafi bertulisan Arab yang maha indah. Itu baru bebenapa contoh saja. Secara umum,dapat disimpulkan bahwa sudah ada faktor-faktor yang menjembatani saling pengertian antara Jepang dan dunia Islam, khususnya Islam di Indonesia. Kiranya adalah tugas kita bersama untuk mengambil manfaat dan faktor-faktor demikian bagi diperdalamnya saling pengertian antara kedua belah pihak, guna mempererat persahabatan yang telah terjalin.

Islam Dapat Memberikan “New Sense of Values” Kepada Masyarakat Jepang.

Posted in In Indonesian, Pencarian Islam with tags , , , , , on May 5, 2008 by the28

Berikut ini merupakan artikel yang saya ambil dari Aneka Jepang edisi 316, sangat menarik untuk disimak.

Bapak Shoichi Oni dan Japan Muslim Association (JMA):

Islam Dapat Memberikan “New Sense of Values” Kepada Masyarakat Jepang.

Berikut ini Aneka Jepang menyajikan tulisan yang merupakan paduan hasil wawancara dengan Bapak Shoichi Oni (nama Islam beliau: Arif Rahman), wakil Japan Muslim Association di jakarta, serta bahan-bahan yang diperoleh dari Bp. Oni. Dalam tulisan ini, pertama kami memperkenalkan Japan Muslim Association, organisasi Muslim yang tertua di Jepang. Pembaca juga bisa mengetahui situasi kehidupan seorang muslim di Jepang secara umum, dan apa pendapat Pak Oni mengenai prospek perkembangan agama Islam di masa mendatang.

Japan Muslim Association dan kegiatannya

Merupakan organisasi Muslim yang pertama di Jepang. Organisasi yang didasarkan pada sistem keanggotaan mi, dibentuk pada tahun 1953. JMA bertujuan menjadi wadah bagi kaum Muslim – yang merupakan minoritas di Jepang – untuk mempraktekkan Islam secara selaras dengan masyarakat Jepang, untuk lebih mengenal Islam, meningkatkan iman, pendidikan, dan agar umat Muslim di Jepang dapat saling membantu,dan menjalin persahabatan serta solidaritas dengan saudara-saudari Muslim di luar negeri.

Dewan Direktur dari asosiasi ini terdiri dari 18 orang, diketuai oleh Bapak Amin K.Tokumasu (Presiden), sedangkan wakilnya (Vice President) adalah Bp. Amir T.Arai. Ketua Kehormatan adalah Bp. Khalid M. Higuchi. Sebagian besar dan para direktur (semuanya orang Jepang) adalah para akademisi kajian Islam dan kajianTimurTengah dan mantan eksekutif perusahaan yang beroperasi di sebuah negara Timur Tengah, a.l. Bp. Tayeb H. Muto, Bp. Yousuf Y. Kashihara, Dr. Hasan K. Nakata, dll. Salah seorang direktur, yaitu Ibu Hafni V. Nagai adalah putri dari Bp. H. Arifin Nagai yang pernah bertugas di Kedutaan Besar Jepang di Jakarta sebagai Direktur Penerangan dan Kebudayaan.

Secara garis besar kegiatan JMA terbagi atas : Dakwah dan Kegiatan Kebudayaan, Kegiatan Seremonial, Kegiatan Sukarela, dan Dialog. JMA menerbitkan dan membagikan terjemahan Alqur’an Suci dalam bahasa Jepang, buku-buku mengenai Islam, buletin”Islam”,mengadakan seminar, workshop, ceramah, dll. tentang Islam, menyelenggarakan kursus bahasa Arab. mengirimkan mahasiswa Jepang untuk belajar keluar negeri, dIl. Terbitan besar JMA adalah “Terjemahan Kitab Suci Al Qur’an”dalam bahasa Jepang, hasil koreksi dan revisi berulang kali terhadap teks terjemahan yang dilakukan oleh Umar Mita. Teks bahasa Jepang terjemahan itu didampingi teks asli dalam bahasa Arab yang sudah mendapat otorisasi resmi dari Muslim World League. Juga telah diterbitkan “Sahih Muslim” (terjemahan oleh 3 orang anggota JMA), ”200 Hadits Hidup Nabi Muhammad S.A.W.”, dlI. JMA menyelenggarakan “Islamic camping” setiap tahun yang diikuti sekitar seratus orang, yang merupakan acara silaturahmi di mana dilakukan shalat berjemaah, pemutaran video yang berbau Islami, presentasi, ceramah,dsb. yang terkait dengan Islam. Tujuannya adalah untuk mendalami hidup yang Islami dan mempererat persaudaraan. Acara camping tersebut juga boleh diikuti oleh peserta yang non-Muslim yang ingin mengenal Islam dan dekat. Selain itu, juga kerap diadakan acara pertemuan baik di mesjid maupun di tempat-tempat lain antar para pengurus Asosiasi serta dengan para anggota. JMA menjalin komunikasi silaturahmi dengan KBRI, a.l. dengan saling mengundang satu sama lain. JMA juga mengadakan konsultasi dengan tokoh-tokoh Islam di Indonesia. Untuk menyiarkan Islam, JMA melalui para pakarnya juga memberikan penerangan tentang Islam melalui radio, televisi, media cetak. dan ceramah di berbagai tempat.

JMA membina komunikasi yang baik dengan berbagai kalangan Islam di luar negeri. termasuk dengan organisasi-organisasi Islam di Indonesia, seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiah, dll. Dalam menjalankan kegiatannya, JMA mendapat dukungan dan bantuan dari luar negeri seperti kerajaan Saudi Arabia (Kantor JMA di Jepang),Turki (pendirian Mesjid), dll.

Muslim di Jepang

Menurut Konstitusi Jepang, kebebasan beragama dijamin bagi semua orang. Negara tidak boleh menyeienggarakan pendidikan keagamaan atau melakukan kegiatan keagamaan lainnya. Negara tidak boleh campur tangan dalam hal agama karena hal-hal yang terkait dengan agama merupakan urusan pribadi yang menyangkut hati orang, dan masyarakat Jepang secara umum tidak terlalu peduli akan agama orang lain. OIeh karena itu, boleh dikatakan hampir tidak ada konflik yang terkait dengan agama, dan kegiatan ibadah Muslim tidak menghadapi hambatan di Jepang, kecuali karena lingkungan sosiaI budaya saja. Dengan demikian, orang Islam Jepang dapat bersekolah atau bekerja seperti sesama orang Jepang Iainnya, tanpa merasa tersisihkan. Jumlah orang Jepang yang Muslim diperkirakan sekitar 7000 orang, dan jumlah seluruh umat Muslim di Jepang adalah 100.000 orang, termasuk orang-orang asing yang Muslim (terutama pelajar, termasuk para mahasiswa/i Indonesia). Orang Jepang dikenal serius dalam melakukan apa saja, tak terkecuali dalam hal menjalankan agama. Orang-orang Jepang Muslim berusaha melakukan yang terbaik dalam menjalankan ibadahnya.

Di Jepang terdapat beberapa mesjid besar (Tokyo, kobe, Kyoto, dll.), sejumlah mesjid kecil dan mushola. Mesjid tertua adalah Mesjid Tokyo yang didirikan pada tahun 1938 di kawasan Shibuya, tapi ditutup pada tahun 1984 karena sudah terlalu tua dan lapuk. Sebagai gantinya didirikan Mesjid Tokyo Jamii path tahun 2000. Mesjid-mesjid lainnya adalah:Otsuka, Hiroo, Mushola Indonesia (di Meguro), Hachiouji, Ohanajaya,Toda, Iwata, Nagoya, dll.


Menjawab pertanyaan yang diajukan Aneka Jepang, Bapak Oni mengatakan bahwa banyak nilai tradisional Jepang yang sejalan dengan ajaran Islam, seperti etos kerja, kebersihan, kejujuran, perlakuan sama derajat, derma (membantu kaum lemah), dIl. Akan tetapi. hidup sebagai Muslim di tengah-tengah masyarakat Jepang juga tidak terlalu mudah karena rnasyarakat Jepang belum begitu paham dengan hal-hal lslami. Misalnya mendapatkan rnakanan halal dan berpuasa merupakan masalah tersendiri yang harus diatasi oleh seorang Muslim Jepang, dll. Syukurlah berkat keteguhan hati mereka, segalanya bisa diatasi. Sementara itu, meski baru sebatas rasa ingin tahu, perhatian masyarakat Jepang terhadap Islam terasa makin meningkat akhir-akhir ini. Radio

—————————————————-

banyak nilai tradsionaI Jepang yang sejalan dengan ajaran Islam, seperti etos kerja, kebersihan, kejujuran, perlakuan sama derajat dan membantu kaum yang Iemah.

—————————————————-

dan televisi terkadang menyiarkan penerangan tentang Islam yang dijelaskan oleh para pakar Islam, sehingga Islam dapat lebih dikenal dan dimengerti oleh masyarakat luas.

Prospek perkembangan Islam di Jepang

Menurut Bapak Shoichi Oni, agama Islam akan terus rnenyebar di Jepang di masa mendatang sebagai Islam yang maju, modern, murni dan transparan. Beliau merasa yakin bahwa ”Kami dapat rnenyebarkan nilai-nilai Islam yang dapat menjawab berbagai masalah yang ada.” Menurutnya, Islam dapat memberikan “new sense of values” kepada masyarakat Jepang, terutama guna menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan masa kini, seperti tingginya angka bunuh diri (30.000 orang per tahun), adanya “ijime” (gangguan terhadap siswa sekolah oleh rekannya, berupa ancaman, pemukulan, dsb.), serta berbagai tekanan hidup lainnya. Masyarakat Jepang dewasa ini rnembutuhkan suatu anutan tata nilai yang kokoh, maka mereka dapat mengambil nilai-nilai baik dalam Islam untuk mendapatkan solusi serta nilai-nilai falsafah tentang kehidupan. Dari Islam masyarakat Jepang dapat memahami apa arti hidup dan kehidupan itu, perlunya rnenjaga lingkungan hidup, dan yang penting adalah mengetahul bahwa “Allah adalah Maha Esa dan Mahakuasa atas segala-galanya, menentukan hidup manusia tutur Bapak Oni seraya menunjukkan tangannya ke atas.


>>> Alamat Japan Muslim Association: Valore Yoyogi 1004 2-26-5, Yoyogi Shibuya-ku Tokyo 151-0053. Website http://muslimkyoukai.jp (dalam bahasa Jepang)

Qur’an Opposes Racism And Fascism

Posted in Harun Yahya, In English with tags , , , , , , , , , on January 29, 2008 by the28

* This article is taken from http://www.islamdenouncesantisemitism.com. I hope it useful.

by HARUN YAHYA

It is perfectly obvious that fascism has only ever meant blood and suffering for mankind. The history of the 20th century can be seen as proof of this. But despite this fact there are still people in many parts of the world who are sympathetic towards fascism, or antisemitism, its standard-bearer. Fascist movements in our own time are rapidly spreading under the name of neo-Nazis or hooligans. Jews face anti-semitic attacks, and Muslims and other minorities are harassed and murdered, or their homes are set on fire.

Legal measures taken against these fascist gangs are ineffective, and such powerful governments as Great Britain and Germany are unable to suppress them. This is because they use inefficient methods. It is impossible to restrain and bring into line people who have been brought up with no knowledge of religion and to be utterly irresponsible, uncontrolled and aggressive. The only way to stop this aggression and terrorism that still persists in many countries today is to inoculate people with the morality taught by religion instead of pagan or atheistic ideologies that are at the root of fascism.

Fascism opposes peace, friendship, brotherhood, compromise and tolerance. The essence of religion, however, is good morality. So fascism is an ideology completely at variance with religion.

Islam Opposes Racism

” Fascism approves of racism. Fascists have always claimed that their own race or nation are superior to others, and have used this claim as an excuse to seize other nations’ lands and goods. This racist claim ends in countless wars, killings, and ‘ethnic cleansing.’ Whereas, as we have seen, the Qur’an teaches that superiority does not lie in race, color or any other feature, but in closeness to God and living by faith and morals. The Qur’an states this truth:
Mankind! We created you from a male and female, and made you into peoples and tribes so that you might come to know each other. The noblest among you in God’s sight is that one of you who best performs his duty. God is All-Knowing, All-Aware. (The Qur’an , 49:13)

In another holy verse, God describes racism as the “fanatical rage of the Time of Ignorance”, and reveals to believers that He will protect them against this provocative ideology:

Those who disbelieve filled their hearts with fanatical rage – the fanatical rage of the Time of Ignorance – and God sent down serenity to His Messenger and to the believers, and obliged them to respect the formula of heedfulness which they had most right to and were most entitled to. God has knowledge of all things. (The Qur’an , 48:26)

As the verse makes clear, God has divided people into different races and ethnic groups so that they can get to know one another and live in peace, brotherhood and tolerance. In other words, contrary to what fascists think, different races and ethnic groups are not a tool for Social Darwinist conflict and ‘struggle for survival.’ There can be no question of biological superiority among different races and ethnic groups. God ascribes the only ‘superiority’ among human beings to closeness to Him, and living in faith and morality. In a condition where people adhere to the Qur’an , therefore, there will be no conflict of race, color or tribe, and claims of superiority on these grounds will never be able to find fertile ground to grow in.

“Fanatical Rage” Is A Pagan Attitude

” History reveals that ‘fanatical rage’ is a sickness belonging to pagan or atheist societies, in which claims based on the superiority of a race, ethnic origin or tribe, and the conflict that results from them, have always existed. These people have always sought ‘superiority’ in physical features such as those. The Qur’an however says, ‘All might belongs to God.’ (The Qur’an , 10:65) Human beings are created by God with no distinction between race or skin color, but as helpless creatures utterly dependent on God. They all have to die. So nobody has the right to claim that he is superior to any other individual or society. These senseless claims will disappear in death. A holy verse on the subject of the Day of Judgement reveals this fact:

Then when the Trumpet is blown, no ties of kinship will exist between them on that day, nor may they question one another. (The Qur’an , 23:101)

—————————————————————————————————-

04.jpg 05.jpg

TODAY’S FASCISTS: NEO-NAZIS
Since the beginning of 1990’s, fascist groups like skinheads and neo-Nazis have escalated their acts of terrorism. The “ethic” that these groups is the direct opposite of the morality of the monotheistic religions. Instead of mercy, love and modesty, they prefer cruelty, hate and arrogance.

—————————————————————————————————-

As the verse makes clear, at the moment of death, the Day of Judgement or in the hereafter, concepts such as race, color and ethnic origin will be unimportant. The only thing of any importance then will be closeness to God and whether a person has won His mercy. On that day, nobody will be in a position to ask anyone about his race or ethnicity. Those people who are now passionate on the subject of their ethnicity, who kill other people and even burn them alive, will understand how helpless and dependant they are, no matter what their race.

Violence is Not An Islamic Method

” Another distinguishing feature of fascism is its tendency to violence. Fascists see violence, the use of brute force, war and conflict as sacred concepts. That is not possible for someone who lives by the Qur’an . God wants the faithful to live by good morals. And the Qur’an describes this morality. For instance, a Muslim is charged with returning good for evil. God says this in one of the holy verses on the subject,

A good action and a bad action are not the same. Repel the bad with something better and, if there is enmity between you and someone else, he will be like a bosom friend. (The Qur’an , 41:34)

It is out of the question for a person who behaves in accordance with the above verse to feel any sympathy for fascist logic and methods, or to show even the slightest tendency towards fascism.

Killing Innocent People is a Great Sin

” Another feature of fascist morality is that it is quite capable of sacrificing thousands of innocent people without turning a hair for the sake of those aims that it perceives to be ‘sacred,’ and seeing that as a virtue. Fascists, who think that ‘the end justifies the means,’ actually carry out all kinds of brutality for an end that is in itself utterly unjustifiable. However, the Qur’an says that attacking people unjustly and killing the innocent is a great crime. According to fascism, human life is worth nothing, whereas religion sees the life of even one person as being of the utmost importance. God commands:

…if someone kills another person – unless it is in retaliation for someone else or for causing corruption in the earth – it is as if he had murdered all mankind. And if anyone gives life to another person, it is as if he had given life to all mankind… (The Qur’an , 5:32)

Bearing in mind that killing an innocent person is like murdering all mankind, it is clear what a great sin all the killings, murders and genocide carried out by fascists are. God reveals what awaits the cruel nature of the fascists in the hereafter:

There are only grounds against those who wrong people and act as tyrants in the earth without any right to do so. Such people will have a painful punishment. (The Qur’an , 42:42)

Islamic Morality Excludes “Rage”

” Fascists have an exceedingly emotional make-up, for which reason they can easily be provoked, angered and incited to violence. Fascist groups tend to operate in the form of street gangs, become consumed with anger at even the slightest incident and immediately start fighting. Naturally, this emotional violence is completely contrary to what the Qur’an commands. The Qur’an speaks of intelligent, mild and moderate people who can restrain themselves when they grow angry. Nothing that happens makes them aggressive or angry:

Those who give in times of both ease and hardship, those who control their rage and pardon other people – God loves the good-doers – (The Qur’an , 3:134)

Islam Necessitates Reason and Calmness

” Another tendency possessed by fascists is the collective hysterical mentality. Many unintelligent and ignorant young people in fascist groups, who do not even know why they do what they do, get carried away by a kind of hysterical emotion under the effect of crowds, slogans and martial songs. They get carried away by the herd mentality and involved in group crimes that they would never carry out of their own free will. They can attack a foreigner for no reason, or pillage a workplace… Most people who engage in such actions do so because they have become part of the ‘herd,’ just one part of the psychology of the group, because their wills and consciences are weak. But God warns people against the deviancy of the majority:

If you obeyed most of those on earth, they would misguide you from God’s Way. They follow nothing but conjecture. They are only guessing. (The Qur’an , 6:116)

Do not pursue what you have no knowledge of. Hearing, sight and hearts will all be questioned. (The Qur’an , 17:36)

Islam Supports Peace and Conformity

” Another point where religion parts ways with fascism is the Qur’an ‘s recommendation of peace and compromise. These concepts are the exact opposite of fascism, which approves of aggression, conquest, war, brute force and oppression. The Qur’an views all of these things as cruelty, and God disapproves of them. On the contrary, God commands people to live according to what is good and with good relations between each other.

There is no good in much of their secret talk, except in the case of those who enjoin charity, or what is right, or putting things right between people. If anyone does that, seeking the pleasure of God, We will give him an immense reward. (The Qur’an , 4:114)

Conclusion

In conclusion, when we examine the fascist character, we see a system of ethics that is the exact opposite of such virtues as love, affection, compassion, humility, and cooperation that religion brings with it. Of course this system of ethics has existed throughout history, but fascism is a school of thought that supports it in a systematic manner and which under the influence of Darwinism portrays it as a ‘scientific’ and rational approach. The concept of ‘cruelty,’ that has always been condemned by religion, is systematically praised and justified by fascism.

This cruel and ruthless ideology lies behind the genocide carried out by Hitler against the Jews, Mussolini’s ruthless conquests, the bloody civil war waged by Franco, Pinochet’s brutalities, Saddam Hussein’s killing of 5,000 civilians with nerve gas, the inhumane savagery meted out to the Bosnians and Albanians by Milosevic, and many other contemporary fascist killings.

Fascist ideology plays a role not just in political violence such as the above, but also in instances of violence one can see in daily life. The stabbing, beating or killing of people because of a simple misunderstanding are the product of a culture that sees and portrays violence as a kind of heroism. And at the root of this culture are the influences of the ‘struggle for survival’ of such ideologues as Darwin and Nietzsche.

The root cause of this sickness is that these people have no religion. They may claim to be religious if asked perhaps, but they have not the slightest awareness of the beauty and nobility that religion bestows on people. And for the same reason, the cure for the sickness is for people to learn the true meaning of, understand and live by Koranic morality.

GEREJA SETAN dan BAPHOMET

Posted in Harun Yahya, In Indonesian with tags , , , , , , , on January 29, 2008 by the28

Artikel ini diambil dari majalah Insight, Harun Yahya: Menguak Sejarah Setanisme – bagian ke-2. Semoga bermanfaat.

Setanisme secara singkat dapat diartikan sebagai penyembahan setan dan menjadikannya sebagai tuhan. Selain menolak Allah, semua agama dan nilai keagamaan, gerakan jahat ini memiliki ajaran melaksanakan hal-hal yang oleh agama dianggap berdosa. Setanisme juga menerima setan, lambang kejahatan, sebagai pemimpin dan pembimbing.

baphomet.jpg

Sejarah Gelap Setanisme

Kaum Setanis, yakni para pengikut ajaran setanisme, sudah ada dan melaksanakan kegiatan keji mereka di setiap tahap sejarah dan dalam setiap peradaban, dari Mesir kuno sampai Yunani kuno, serta Abad Pertengahan sampai hari ini. Di antara abad ke-14 dan ke-16, para tukang sihir dan orang yang menolak agama sama-sama memuja setan. Setelah tahun 1880-an, di Prancis, Inggris, Jerman, dan sekaligus di berbagai negara lain di Eropa dan Amerika, Setanisme diatur dalam perkumpulan dan tersebar di kalangan orang yang mencari keyakinan dan agama lain.

Penyembahan setan terus berlanjut sejak abad ke-19, mula-mula sebagai Setanisme tradisional, lalu dalam aliran sesat yang lebih kecil yang merupakan pecahannya. Upacara kejam yang dilakukan oleh tilamg sihir dan orang-orang tak bertuhan, pengorbanan anak dan orang dewasa kepada setan, perayaan Misa Hitam dan upacara Setanisme tradisional lainnya telah diwariskan diam-diam secara turun temurun.

Lambang Setanisme tradisional yang terpenting adalah dewa Romawi kuno Baphomet. Pada waktu itu, Baphomet menjadi lambang bagi orang yang memuja setan. Para ahli sejarah yang menelusuri asal-usul sosok berkepala kambing ini telah menemukan beberapa petunjuk penting tentang kegiatan Setanis. Lambang Setanis terpenting kedua adalah pentagram, yaitu bintang bersegi lima di dalam lingkaran. Yang menarik, ada dua perkumpulan rahasia lainnya di samping para Setanis yang menggunakan Baphomet dan pentagram sebagai lambang. Yang pertama adalah perkumpulan Kesatria Biara Yerusalem (Knight Templars), yaitu perkumpulan yang dituduh oleh Gereja Katolik sebagai penyembah setan, dan dibubarkan pada tahun 1311. Perkumpulan lainnya adalah perkumpulan Mason yang telah bertahun-tahun lamanya menimbulkan rasa penasaran karena kerahasiaan dan upacaranya yang aneh.

Banyak ahli sejarah, yang telah menyelidiki masalah itu, percaya bahwa terdapat hubungan antara Kesatria Biara Yerusalem dengan perkumpulan Mason. Menurut mereka, kedua kelompok itu saling melanjutkan satu sama lain. Sesudah Kesatria Biara Yerusalem dilarang oleh Gereja, perkumpulan itu melanjutkan keberadaannya secara rahasia dan akhirnya berubah menjadi paham Mason. Yang pasti tentang Freemasonry adalah, perkumpulan ini bersifat amat rahasia, punya susunan organisasi, dengan anggota di seluruh pelosok dunia. Uraian yang diberikan para ahli seperti Leo Taxil, yang pernah menjadi seorang Mason, namun telah keluar dari perkumpulan itu, mengatakan bahwa para Mason amat menghormati Baphomet dan melangsungkan upacara yang menyerupai tata-cara penyembahan setan. Kenyataan lain yang menimbulkan kecurigaan adalah bahwa banyak pengikut Setanisme yang kemudian menjadi anggota organisasi Masonis.

Kini, Setanisme telah meninggalkan upacara dan markasnya yang rahasia itu, untuk keluar ke jalan-jalan. Para Setanis bergiat di setiap negara untuk menyebarkan ajarannya dengan gigih dalam buku-buku, terbitan berkala, dan terutama di Internet dalam usaha mereka menarik anggota. Tak peduli di negara mana pun mereka berada, para Setanis menampilkan citra yang sama. Cara berpakaian, tata cara penyembahan, kesamaan surat yang mereka tinggalkan sebelum melakukan bunuh diri dan ciri lainnya menunjukkan bahwa Setanisme bukanlah gerakan biasa yang dipenuhi para penganggur, melainkan sebuah organisasi yang sengaja bersandar pada landasan pemikiran.

 

mason.jpg

Gereja Setan

Meskipun keberadaan para penyembah Setan telah diketahui selama bertahun-tahun, tak seorang pun muncul dan mengakui secara terbuka bahwa mereka adalah penganut Setanisme. Setanisme pertama kali menjadi gerakan yang terbuka dan teratur di tahun 1960-an di Amerika Serikat. Tanggal 30 April 1966, Gereja Setan dibentuk di California. Pendiri gereja aneh ini adalah seorang penganut Setanisme yang bernama Anton Szandor LaVey yang menyatakan dirinya sebagai pendeta tinggi. Dikenal sebagai Paus Hitam, LaVey menulis buku-buku tempat dia merumuskan pandangan-pandangannya mengenai Gereja Setan. Judul buku-buku itu menakutkan: “Kitab Suci Setan, Upacara Setanis, Penyihir Setanis, Buku Catatan Setan dan Setan Berbicara”. LaVey meninggal di tahun 1997. Diperkirakan bahwa Gereja Setan memiliki sekitar 10 ribu anggota di Amerika Utara, dan meskipun banyak menerima tuntutan hukum, kegiatan dan upacaranya terus berjalan.

Setanisme dan Materialisme

Suatu ciri kaum Setanis masa kini adalah, mereka semua ateis (tidak mengakui Tuhan). Mereka juga sekaligus kaum materialis, artinya, mereka hanya percaya kepada keberadaan benda belaka. Mereka mengingkari adanya Tuhan dan semua makhluk gaib. Oleh karena itu, kaum Setanis tidak percaya kepada setan sebagai makhluk yang nyata. Meskipun disebut sebagai penyembah setan, mereka tidak mengakui adanya setan. Bagi kaum Setanis, setan hanyalah lambang yang menyatakan permusuhan mereka terhadap agama dan kekerasan hati mereka. Dalam sebuah tulisan yang berjudul “Pengantar Setanisme” yang diterbitkan Gereja Setan, dinyatakan bahwa para Setanis sebenarnya adalah ateis:

Setanisme adalah sebuah agama yang tak mengenal Tuhan, mirip seperti ajaran Buddha. Tidak ada yang perlu ditakuti selain akibat tindakan kita. Kaum Setanis tidak percaya adanya Allah, malaikat, surga atau neraka, iblis, setan, ruh jahat, ruh baik, peri, atau makhluk gaib yang jahat. …Setanisme bersifat ateis …Otodeis: kami menyembah diri kami sendiri. …Setanisme adalah materialis … Setanisme adalah lawan agama. (Vexen Crabtree, “A Description of Satanisme”)

Singkatnya, ini adalah hasil filsafat kebendaan dan tak mengenal Tuhan yang telah tersebar sejak abad ke-19. Seperti filsafat ini, Setanisme menyandarkan diri pada teori yang dianggap ilmiah: Teori Evolusi Darwin.

Yusuf Islam : Bagaimana saya memeluk Islam

Posted in In Indonesian, Muallaf Terkenal with tags , , , , , , , , on January 28, 2008 by the28

Nama : Cat stevens. Setelah memeluk agama islam ia bernama YOUSEF ISLAM. Lahir di London, dijantung kota Inggris. Terlahir di zaman telah adanya tehnologi canggih dan di negara modern yg. terkenal di dunia. Dari lingkungan yg. demikian itu. saya tumbuh dan hidup. Pendidikan saya selesaikan di sekolah2 Katholik .

Saya memahami benar ajaran kehidupan dan ajaran agama kristen. Saya mengimani adanya Tuhan, Isa almasih. takdir, jalan yg. baik dan buruk. Gereja banyak mengajarkan dan menekankan pd. saya untuk percaya kpd. Allah, sedikit pd. Isa Almasih dan mengurangi sedikit dari kepercayaan pd. roh kudus .

Pd. waktu itu kehidupan di sekitar saya masyarakatnya berfikiran sempit dan picik . Mereka waktu itu banyak mengajarkan pd. generasi semasa saya bahwa kekayaan adalah suatu kehormatan dan hak yg. hakiki sedang kemiskinan adalah suatu kekalahan yg. total dan memalukan.

MENCIPTA FALSAFAH HIDUP SENDIRI

Kami mencontoh Amerika yang mana kami beranggapan bahwa Amerikalah suatu lambang kekayaan yg. nyata dan negara2 dunia ke 3 adalah sbg. Contoh dari kemiskinan, kesengsaraan, keterbelakangan, kebodohan dan kesesatan. Dikarnakan ini, saya mencari jalan untuk menjadi kaya agar dapat hidup bahagia.

Kemudian saya menciptakan falsafah hidup yaitu : Antara kehidupan tidak ada hubungannya dengan agama. Dan saya jalankan falsafah ini.

MULAI MENCARI JALAN HIDUP

Mulailah saya mencari jalan untuk hidup sukses. Dan ketika itu cara yg. paling murah adalah mempunyai gitar.

Kemudian saya membelinya dan mulailah menciptakan syair dan iramanya, melalui gitar. Melesatlah saya dari sekian penyanyi2 yg. ada. Ini saya lakukan tepat setelah saya bernama CAT STEVENS.

Saat itu umur saya 18 thn. Dan telah mencetak 8 album lagu . Mulailah saya melakukan show dan mengumpulkan banyak ketenaran dan kekayaan, hingga sampai pd. puncaknya. Saya yg. pd. waktu itu ada di puncak ketenaran dan kejayaan, sering melihat keadaan yg. dibawah, saya takut jatuh . Maksud saya takut kehilangan semua Sejak itu mulailah ada rasa tak tenang dan was-was dalam jiwa saya. Dan sejak itu pula mulainya saya menenggak minuman botolan setiap hari . Maksud saya minuman inilah yg. memberi semangat dalam karier dan hidup saya. Waktu itu saya merasa sepertinya semua org. memakai topeng . Mereka sudah pasti adalah orang2 munafik hingga bisa menjual untuk mendapatkan keuntungan agar tetap hidup.

Saya merasakan semua ini adalah sesuatu yg. merugikan dan kejam . Sejak saat itu mualai membenci kehidupan saya sendiri. Mulailah saya menjalani hidup menyendiri. Dan sejak itu jiwa saya terasa sakit tak terkendalikan dan benar-benar jiwa saya dalam keadaan sakit . Kemudian, saya dipindahkan kerumah sakit dan ternyata saya terdapat mengidap penyakit batuk TBC. Selama tinggal dirumah sakit, mereka telah banyak memberi kebaikan pd. saya dikarnakan banyak mengajarkan pd. saya menuju cara untuk berfikir secara positip.

Ketika itu ada datang perasaan beriman kepada Tuhan. Tetapi gereja tak mengajarkan secara jelas siapa Tuhan itu sebenarnya. Dan lumpuhlah fikiran saya untuk mengetahui siapa Tuhan dan apa itu Tuhan yg. pernah disebut-sebut digereja dulu.

Ketika itu pemikiran saya masih gelap . Mulailah berfikir untuk mengalihkan kehidupan ke suatu cara hidup baru. Waktu itu saya muali membaca kepercayaan dan Timur (kurang jelas apa maksudnya.pen). Dan waktu itu saya mencari ke dunia yg. nyata. Datanglah suatu perasan pd. saya suatu tujuan tetapi saya tak memahami apa tujuan yg. datang pd. saya saat itu. Secara tak saya sadari, saya duduk menyendiri dalam lamunan yg. panjang.

Mulailah berfikir untuk mencari kebahagiaan yg. tak pernah saya dapatkan dari kekayaan yg. saya dapatkan atau kejayaan dan kemashuran yg. pernah saya raih atau pula dalam kehidupan gereja .

MULAI MEMELUK AGAMA BUDHA

Mulailah saya memeluk agama Budha dan ajaran pemikiran cina. Belajar memahaminya dgn perkiraan saya kemungkinan kebahagiaan inilah yg. akan menunjukkan isyarat untuk kejadian pd. esok hari agar dapat menghindar dari suatu kerugian atau kehancuran atau kejahatan. Mulailah saya menjadi seorang yg. berserah kpd. keadaan dan mempercayai pd. bintang-bintang. Saya juga percaya para peramal. Tetapi semua ini ternyata omong kosong belaka.

MENJADI KOMUNIS

Pindah dan masuklah saya menjadi seorang yg. berfaham komunis. Logika saya menduga kebahagiaan akan terwujud jika kekayaan dibagi rata ke seluruh manusia di dunia ini. Tetapi saya merasakan faham komunisme ini tidak selaras dgn. Naluri kemanusiaan saya yaitu tidak adanya keadilan . Yang adil adalah yg. berhak atas sesuatu setelah ia mendapatkannya dari jerih payahnya. Bukannya setelah bersusah payah mendapatkan hasilnya kemudian larinya kpd. org. yg. tak bersusah payah, untuk mendapatkan itu.

Beberapa waktu kemudian saya berkeputusan bahwasanya tidak adanya ajaran atau kepercayaan sbg.jawaban yg. saya temukan dan yg. menjelaskan pd. saya sbg. Suatu kenyataan dimana saya selama ini dalam pencarian untuknya. Berputus asalah saya, sebab waktu itu saya belum mengetahui Islam.

KEMBALI MASUK GEREJA

Kemudian kembali pd. kepercayaan saya semula ke gereja. Dikarnakan semua ajaran itu adalah kosong belaka dan gereja masih lebih baik dari semua yg. pernah saya temukan selama dalam pencarian waktu itu.

Kembali lagi pd. dunia musik dan mulai dari bawah lagi, dgn. Menetapkan hati bahwasanya inilah agama saya dan tidak ada agama lain. Dan berusahalah saya dgn. Ikhlas hati pd. agama ini dgn. Berusaha untuk memperbaiki musik agar menjadi sesuatu yg. terbaik. Saya ambil satu keputusan dari ajaran gereja, yaitu : Jika ingin mencapai kedudukan spt. Tuhan maka berusahalah untuk ikhlas menyelesaikan suatu pekerjaan.

HADIAH AL QURAN ASAL MULA

Pd. thn. 1975 terjadinya keajaiban yaitu kakak saya yg. tertua memberi hadiah berupa Al-qur‘an. Dan hadiah itu hingga saya jalan-jalan ke Quds / Yerussalem (Palestin) tetap ada. Sejak dari sinilah saya mulai serius pd. Al-qur‘an pemberian dari kakak saya ini.

Saat itu saya tak memahami isi dan maksud dari Qur‘an tsb. Dari sinilah saya mulai mencari penterjemah untuk menterjemahkannya pd. saya dan menjelaskan apa maksud darinya. Sejak itu mula pertama kalinya saya berfikir ttg. Islam. Islam dalam pandangan org2 barat adalah faham rasialis dan muslimin adalah org. asing dari Turki dan Arab walaupun mereka adalah warga negara di Eropa. Orang tua saya asli dari Yunani. Orang Yunani sangatlah membenci orang Turki muslim. Seharusnya saya membenci agamanya org. Turki yg. sbg. Warisan dari turunan mereka, tetapi saya melihat dan memperhatikan pd. ayat2 dalam Al-qur‘an terjemahan tidak ada larangan untuk mengetahui isi dari Qur‘an itu sendiri.

KATA BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM YANG BERPENGARUH KEPADA JIWA

Lembaran pertama pd. Al-qur‘an ketika saya buka, tercantum jelas dgn nama Allah dgn lanjutannya adalah maha pengasih lagi maha penyayang. Kalimat ini sangatlah berpengaruh pd. jiwa saya . Setelah itu terbaca surat Alfatihah yg. artinya Pembukaan pd. al-kitab (Al-qur‘an), (Alhamdulillaahirrabbil‘alamin, yg. artinya semua bersykur pd. Allah saja, pencipta alam semesta dan Tuhan semua makhluk).

Pd. saat membaca kalimat ini, perasaan diri dan jiwa ini terasa amatlah kecil dan lemah dihadapan Allah SWT. Hal ini disebabkan dulu mereka mengajarkan bahwa Allah adalah satu dan terbagi menjadi tiga . Bagaimana terjadinya ? saya tak tahu ! Mereka juga mengatakan bahwa Allah kaum nasrani lain dgn. Allahnya kaum Yahudi.

Selebihnya Qur‘anul karim adalah ibadah kpd. Allah yg. Esa. Tuhan semesta alam. Dan Qur‘an menegaskan bahwa Allahlah yg. Tunggal Tuhan semesta alam . Juga menegaskan bahwa Allah sendirilah yg. menciptakan Alam semesta ini tanpa bantuan dari siapapun dan tanpa membagi kekuasaan-nya pd. siapapun . Hal ini adalah sesuatu yg. baru bagi saya.

Saya memahami (sebelum mengenal Al-qur‘an) bahwa disitu ada pemahaman / kecocokan,kekuatan/kemampuan dan keajaiban. Tetapi sekarang dgn. Pemahaman Islam bahwa Allah adalah maha Tunggal dan maha berkehendak dan maha berkuasa atas segalanya, bersamaan dgnnya adalah keimanan yaitu iman kpd Hari akhir dan kehidupan setelah hari akhir sbg. Tujuan hidup yg. utama dan kekal selama2nya .

Dan juga, manusia bukanlah terbentuk perbandingan besar dari daging yg. pd. suatu hari akan berganti menjadi debu, spt. Para ahli biologi mengatakannya. Tetapi yg. pasti adalah segala sesuatu pekerjaan yg. menentukan keadaan pd. kehidupan ini yg. pasti akan menentukan kehidupan di hari akhir .

AL QURAN YANG MENUNJUKKAN PADA ISLAM

Qur‘anul karim yg. menunjukkan saya pd. islam. Dan saya menyetujui petunjuknya. Semua bermula dari gereja yg. telah menghancurkan saya yaitu yg. mengaitkan saya pd. kesengsaraan dan kepedihan. Dari dialah yg. membawa saya kpd. Al-qur‘an . Disebabkan tidak adanya jawaban yg. saya dapatkan dari pertanyaan yg. timbul di jiwa sebelum ini .

Qur‘an adalah sesuatu yg. asing. Tidak sama dgn. Kitab-kitab yg. ada. Didalamnya tidak adanya pragraf atau alenia atau penjelasan spt. Yg. terdapat pd. kitab-kitab lainnya yg. ada. Pd. Qur‘an tidak tercantum nama pencatat atau penulisnya . Dari sini saya yakin dan percaya ini adalah wahyu Allah kpd. seorang rosul utusan-Nya

PERBEDAAN AL QURAN DENGAN INJIL

Disini terlihat juga perbedaan dgn. Injil , yg. berbeda-beda penulis dan pencatat dan banyak perbedaan pula dalam kisah-kisah. Saya telah berusaha mencari kesalahan pd. Qur‘an tetapi, disana tak saya temukan, walau berupa kesalahan kecil . Semua kalimat dan maksudnya tersusun rapi tidak ada yg. bertentangan satu sama lainnya dan bersamanya menyatakan bahwa Allahlah yg. maha Esa. Sejak itu mulailah saya memahami apa itu islam. Al-qur‘an bukan satu utusan saja, tetapi semua nabi2 yg. pernah diutus Allah ada didalamnya yg. dikasihi dan tinggi derajatnya di sisi-Nya. Tidak ada yg. dibedakan diantara mereka .

Ini adalah suatu pemahaman yg. masuk akal . Seandainya kamu mengimani pd satu nabi tanpa mengimani yg. lainnya sama artinya menghancurkan risalah/ ajaran/ pesan-pesan dari ajaran-Nya . Sejak ini saya memahami pertalian hidup dan kehidupan sejak adanya kehidupan didunia ini , yaitu dari adanya sejarah dunia bahwa manusia ada dua golongan yaitu golongan yg. beriman dan golongan yg. kafir.

AL QURAN MENJAWAB SEMUA PERTANYAAN

Qur‘an telah menjawab semua pertanyaan saya selama ini. Dari sini saya merasakan adanya kebahagiaan. Kebahagiaan ini datangnya setelah mendptkan kenyataan yg. hakiki.

Setelah membaca dan memahami secara lengkap dari Al-qur‘an selama 1 tahun . Mulailah saya mencari cara dari mana saya untuk memahami isi Qur‘an ini. Setelah itu, saya merasakan bahwa hanya saya sajalah seorang muslim di dunia ini.

Kemudian saya berfikir, bagaimana saya seharusnya menjadi seorang muslim yg. benar-benar muslim. Lalu saya pergi kemasjid di London dan berserah diri pd. Islam, dgn membaca kesaksian bahwa tidak Tuhan selain Allah dan Mhammad bahwasanya seorang hamba dan utusan Allah.

Sejak itu saya meyakini bahwa jalan yang saya pilih adalah ajaran yg. berat dan ini bukanlah kalimat yg. ringan sbg. tanggung jawabnya dan sbg. Jawaban darinya untuk menyelesaikan tugas sbg. Muslim. Sptnya saya baru terlahir kembali. Dan saya mengetahui jalan yg. saya tempuh sama spt. Saudara seiman lainnya.

Saya tak pernah bertemu dgn. Mereka. Dan jika saya bertemu dgn muslim lainnya yg. berusaha menunjukkan pd. saya ttg. Islam tak pernah saya hiraukan . Semua ini di sebabkan kebanyakan nafsu diri dari muslimin telah menguasai mereka. Dan pengaruh negatip dari pemberitaan dunia barat dan juga pengaruh negatip dari pemberitaan negara2 muslim yg. meng-kaburkan hakiki adanya ajaran islam, yg. mana mereka banyak mendukung pd. orang2 atau golongan atau gerakan yg. merendahkan islam.

Kesemuanya ini melumpuhkan kebaikan dari rakyat mereka yg. artinya berniat menghancurkan akhlak dan kehidupan kemanusiaan muslimin mereka sendiri .

MEMPELAJARI KEROSULAN MUHAMMAD SAW

Unsur utama islam yg. saya ambil dari Al-qur‘an, setelah itu saya mulai mempelajari ttg. Kerosulan Muhammad SAW. Yg. mana jalur dan sunnahnya mengajarkan muslimin yg. intinya dari unsur islam .

Sejak itu saya mengetahui jalur yg. maha berharga dalam kehidupan adalah rosullah SAW dan Sunnahnya. Tanpa saya sadari lupalah saya pd. musik. Suatu hari saya tanyakan pd. saudara saya (seiman). Apakah saya boleh melangsungkan kehidupan dalam musik ? Saudara saya itu menasehatkan untuk berhenti. Katanya,” Musik akan mengambil waktumu untuk berzikir kpd.Allah, dan ini adalah sesuatu yg. amat berbahaya bagimu .”

Saya melihat anak2 muda meninggalkan keluarga mereka dan hidup untuk musik dan lagu. Ini didalam islam sangat dilarang dan islam meyakinkan bahwa kekuatan ada pd. lelaki muslim. Sejak itu, semua harta kekayaan yg. saya miliki, saya serahkan untuk DAKWAH ISLAM. (R. Shahrir)

* sumber: swaramuslim.net

How I Came To Islam – Yusuf Islam (Cat Stevens)

Posted in Famous Muallaf, In English with tags , , , , , , , on January 28, 2008 by the28

by Yusuf Islam (formerly Cat Stevens)

All I have to say is what you know already, to confirm what you already know of the message of the Prophet (sallallahu alaihi wa sallam) as given by God – the Religion of Truth. As human beings we are given a consciousness and a duty that has placed us at the top of creation. Man is created to be God’s deputy on earth and it is important to realize the obligation to rid ourselves of all illusions and to make our lives a preparation for the next life. Anyone who misses this chance is not likely to be given another, to be brought back again, for it says in the Qur’an Majeed that when man is brought to account, he will say, “O Lord, send us back and give us another chance.’ The Lord will say, ‘If I send you back, you will do the same.”

My early religious upbringing

I was brought up in the modern world of all the luxury and the highlight of show business. I was born into a Christian home.
We know that every child is born in his original nature, and it is only his parents that turn him to this religion or that. I was given this religion (Christianity) and thought this way. I was taught that God exists, but there was no direct contact with God, so we had to make contact with Him through Jesus, and Jesus was in fact the door to Good. This was more or less accepted by me, but I did not swallow it all.

I looked at some of the statues of Jesus; they were just stones with no life. When they said that God is three, I was puzzled even more but could not argue. I believed it, simply because I had to have respect for the faith of my parents.

Pop star

Gradually, I became alienated from this religious upbringing, and started making music. I wanted to be a big star. All those things I saw in the films and on the media took hold of me, and perhaps I thought this was my god: the goal of making money. I had an uncle who had a beautiful car, and I thought “Well, he has it made”. He had a lot of money. The people around me influence me though think that this was it, this world was their God.

I decided then that this was the life for me, to make a lot of money, to have a ‘great life’. My examples were the pop stars, and so I started making songs. But deep down, I had a feeling for humanity, a feeling that if I became rich, I would help the needy. (It says in the Qur’an that we make a promise, but when we make something, we want to hold on to it and become greedy)

So it happened that I became very famous, as a teenager, and my name and photo were splashed in all the media. They made me larger than life, so I wanted to live larger than life, and the only way to do that was to be intoxicated (with liquor and drugs).

In the hospital

After a year of financial success and ‘high’ living, I became very ill, contracted TB and had to be hospitalized. It was then that I started to think: what was to happen to me? Was I just a body and my goal in life was merely to satisfy this body? I realized now that this calamity was a blessing given to me by Allah, a chance to open my eyes, ‘why am I here, why am I in bed’, and I started looking for some of the answers. At that time there was great interest in great interest in the Eastern mysticism. I began reading and the first thing I began to become aware of was of death, and that the soul moves on, it does not stop. I felt I was taking the road to bliss and high accomplishment. I started meditating and even became a vegetarian. I now believed in ‘peace and flower power’, and this was the general trend. But what I did believe in particular was that I was not just a body, this awareness came to me at the hospital.

One day when I was walking and I was caught in the rain, I began running to the shelter and I realized, ‘wait a minute, my body is getting wet, my body is telling me I am getting wet.’ This made me think of a saying that the body is like a donkey and it has to be trained where it has to go, otherwise the donkey will lead you where it wants to go.

Then I realized I had a will, a God given gift: follow the will of God. I was fascinated by the new terminology I was learning in the Eastern religion. By now I was fed up with Christianity. I started making music again and this time.

I started reflecting my own thoughts. I remember the lyric of one of my songs. It goes like this: ‘I wish I knew, I wish I knew what makes the Heaven, what makes the Hell, do I get to know You in my bed or some dusty cell while others reach the big hotel?’ and I knew I was on the Path.

I also wrote another song ‘The way to find God out.’ I became even more famous in the world of music. I really had a difficult time because I was getting rich and famous and at the same time I was sincerely searching for the Truth. Then I came to a stage where I decided that Buddhism is alright and noble, but I was not ready to leave the world, I was too attached to the world and was not prepared to become a monk and to isolate myself from society.

I tried Zen and Ching, numerology, tarot cards and astrology. I tried to look back into the Bible, and could not find anything. At this time I did not know anything about Islam, and then, what I regarded as a miracle occurred. My brother had visited the mosque in Jerusalem, and was greatly impressed that while on the one hand it throbbed with life (unlike the churches and synagogues which were empty), on the other hand, an atmosphere of peace and tranquility prevailed.

The Qur’an

When he came to London he brought back a translation of the Qur’an, which he gave to me. He did not become a Muslim, but he felt something in this religion, and thought I might find something in it too.

And when I received the Book, (a guidance that would explain everything to me: who I was, what the purpose of life was, what reality was, and where I came from), I realized that this was the true religion – religion not in the sense the West understands it, not the type for only your old age. In the West, whoever wishes to embrace a religion and make it his only way of life is deemed a fanatic. I was not a fanatic, I was at first confused between the body and the soul. Then I realized that the body and soul are not apart and you don’t have to go to the mountain to be religious; we must follow the will of God, then we can rise even higher than the angels. The first thing I wanted to do now was to be a Muslim.

I realized that everything belongs to God, that slumber does not overtake Him. He created everything. At this point I began to lose the pride in me, because hereto I had thought the reason I was here was because of my own greatness. But I realized that I did not create myself, and the whole purpose of my being here was to submit to the teaching that has been perfected by the religion we know as Al-Islam. At this point I started discovering my faith. I felt that I was a Muslim, on reading the Qur’an. I now realized that all the Prophets sent by God brought the same message. Why then were the Jews and Christians different? I know now how the Jews did not accept Jesus as the Messiah and that they had changed His Word. Even the Christians misunderstand God’s Word and called Jesus the son of God. Everything made so much sense. This is the beauty of the Qur’an: it asks you to reflect and reason, and not to worship the sun or moon but the One who has created everything. The Qur’an asks man to reflect upon the sun and moon and God’s creation in general. Do you realize how different the sun is from the moon? They are at varying distances from the earth, yet appear the same size to us; at times one seems to overlap the other.

Even when many astronauts go to space, they see the insignificant size of the earth and vastness of space, and they become very religious, because they have seen the Signs of Allah.

When I read the Qur’an further, it talked about prayer, kindness and charity. I was not a Muslim yet, but I felt that the only answer for me was the Qur’an, and God had sent it to me and I kept it a secret. But the Qur’an speaks on different levels. I began to understand it on another level, where the Qur’an says “Those who believe don’t take disbelievers for friends and the believers are brothers.” Thus at this point I wished to meet my Muslim brothers.

Conversion

Then I decided to journey to Jerusalem (as my brother had done). At Jerusalem, I went to the mosque and sat down. A man asked me what I wanted. I told him I was a Muslim. He asked what was my name; I told him ‘Stevens’. He was confused. I then joined the prayer though not so successfully. Back in London, I met a sister called Nafisa. I told her I wanted to embrace Islam and she directed me to the New Regent Mosque. This was in 1977, about 1½ years after I received the Qur’an. Now I realized that I must get rid of my pride, get rid of Iblis and face one direction. So on a Friday, after Jummah I went to the Imam and declared my faith (the Kalima) at his hands. You have before you someone who had achieved fame and fortune. But guidance was something that eluded me, no matter how hard I tried, until I was shown the Qur’an. Now I realize I can get direct contact with God, unlike Christianity or any other religion. As one Hindu lady told me, ‘You don’t understand the Hindus, we believe in one God, we use these objects (idols) to merely concentrate.’ What she was saying was that in order to reach God one has to create associates that are idols for the purpose. But Islam removes all these barriers, the only thing that moves the believers from the disbelievers is the Salat. This is the process of purification.

Finally I wish to say that everything I do is for the pleasure of Allah and pray that you gain some inspirations from my experiences. Furthermore I would like to stress that I did not come into contact with any Muslim before I embraced Islam. I read the Qur’an first and realized no person is perfect, Islam is perfect, and if we imitate the conduct of the Holy Prophet (peace and blessings of God be upon him), we will be successful. May Allah give us guidance to follow the path of the Ummah of Muhammad (peace and blessings be upon him). Ameen!

*source: swaramuslim.net

Pemeluk agama Buddha juga Atheis

Posted in In Indonesian, Kritik Sosial with tags , , , , , , on January 28, 2008 by the28

Hal tadi penulis simpulkan setelah melakukan perdebatan tentang agama dengan beberapa teman saya yang memeluk agama Buddha. Secara garis besar, hal yang melandasi saya menyatakan bahwa pemeluk agama Buddha juga Atheis antara lain:

1. Kedudukan Sindharta Gautama (Buddha) sama seperti kedudukan para nabi atau rasul, bukanlah tuhan seperti penulis kira sebelumnya.

2. Kedudukan Dewa dan Dewi dalam agama Buddha juga sama, sebagai para nabi atau rasul.

3. Tuhannya pemeluk agama Buddha sebenarnya ialah alam semesta beserta hukum-hukum alam yang mendampingi, bukan sesuatu yang tidak terlihat seperti yang ada pada agama lain atau biasa mereka sebut sebagai Persona (Allah SWT mereka anggap sebagai Persona), dengan kata lain serupa dengan paham materialisme.

4. Mereka menganggap semua tuhannya orang beragama (islam, Kristen, Hindu, dsb) sebenarnya sama, yaitu alam semesta.

5. Prinsip hidup dalam agama Buddha kurang lebih sama dengan paham materialisme, bila melakukan perbuatan baik(bekerja keras, beramal, dsb) akan mendapat hal baik, sedangkan perbuatan buruk (malas, membunuh, dsb) juga akan mendapat hal yang buruk, dan tidak ada yang salah dengan keduanya, semua tergantung dari pribadi masing-masing.

6. Penciptaan alam semesta tidak dijelaskan dengan baik dalam agama Buddha, hanya sebagai mitos atau dongeng yang mereka sendiri bahkan mengatakannya sebagai hal yang tidak masuk akal (ilmiah), sehingga paham Darwinisme atau teori Evolusi sangat mudah untuk diterima.

7, Ibadah atau ritual keagamaan hanyalah sebagai semacam kebudayaan.

Dari serangkaian pernyataan diatas saja sudah jelas bahwa ciri-ciri atheisme sangat kental dengan agama Buddha, hanya saja memang ada beberapa hal yang menyebabkan agama Buddha masih bisa disebut sebagai agama, seperti masih mempercayai adanya kenabian (kerasulan) beserta meiliki pedoman hidup. Salah satu teman penulis bahkan menjadi seorang vegetarian dengan maksud menjalankan perintah agama, dan harapan utamanya tidak lain untuk menjadi seorang Buddha dan memperoleh kenikmatan di nirwana.

“Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan (untuk memperoleh pahala).” (Huud, 11:16)

Secara hakekat ketuhanan pemeluk agama Buddha sebenarnya masih merupakan pertanyaan besar, dan bahkan penulis berulang kali mengajukan pertanyaan “Jadi, sebenarnya siapa tuhan kalian?”, jawabanya “Ya alam semesta dan hukum alamnya”, namun ada juga yang bingung sendiri mau menjawab apa, karena dia sendiri tidak tahu sebenarnya siapa tuhannya.

Akhirnya kembali penulis simpulkan bahwa pemeluk agama Buddha memang sangat rentan dan begitu dekat dengan paham atheisme, mungkin inilah yang menjadi latar belakang kenapa RRC menjadi negara komunis terbesar dunia.

“Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang seIalu mereka kerjakan.” (Al A’raaf, 7:139)