Buat apa menghina?

Mungkin banyak orang di sekitar seperti teman kita sendiri atau bahkan diri kita sendiri yang mengeluarkan kata-kata hinaan, entah itu disengaja ataupun tidak disengaja, buruknya lagi ada hinaan yang seakan-akan sudah menjadi ucapan pergaulan sehari-hari. Sebelumnya, mari kita lihat berbagai macam jenis hinaan:

1. Menghina kekurangan atau kejelekan orang lain; Seperti bila orang buta kemudian dipanggil “Hei orang buta!”.

2. Hinaan yang mengandung fitnah; Seperti memanggil orang bodoh, goblok, dungu, atau sejenisnya ketika dia melakukan kesalahan atau hal yang tidak disenangi, padahal hal tersebut belum tentu benar.

3. Hinaan dengan nama orang tua; Memanggil seseorang dengan nama orangtuanya dengan maksud merendahkan atau mengolok-olok, sangat berbahaya.

4. Hinaan untuk pergaulan; Ini bisa dibilang sebagai dosa terselubung, walaupun biasanya tidak ada yang tersinggung, tetap saja yang namanya hinaan itu tidak baik.

5. Hinaan karena emosi; Bisa merupakan gabungan dari berbagai jenis hinaan, contohnya mudah dan ada banyak sekali, penulis tidak merasa perlu menyampaikannya di sini.

Hinaan umumnya dilatarbelakangi oleh berbagai macam alasan yang juga dianggap sebagai keuntungan (yang salah tentunya), di antaranya:

1. Sebagai cara untuk mengungkapkan emosi

2. Mencari kepuasaan batin dengan jalan merendahkan orang lain.

3. Mencari posisi dalam pergaulan

Sedangkan keuntungan moral yang diperoleh bisa dibilang tidak ada, bahkan hanya bisa menimbulkan dendam, amarah, perasaan minder, kesombongan dan yang terutama dosa.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri (sesama mukmin) dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Al Hujuraat, 49:11)

Mencaci-maki seorang mukmin adalah suatu kejahatan, dan memeranginya adalah suatu kekufuran. (HR. Muslim)

Jadi daripada menghina, lebih baik kita berlatih untuk mengamalkan sikap sabar dan mengganti kebiasaan berkata hina (kotor) dengan perkataan yang lebih baik dan membangun, selain membuat orang senang dan bahkan bisa memotivasi, kita juga mendapat pahala, lebih menguntungkan dan bermanfaat tentunya.

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali ‘Imran, 3:134)

 “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (Al Furqaan, 25:63)

2 Responses to “Buat apa menghina?”

  1. wah setuju…. benar sekali….

    Syair Karaniya Metta Sutta :

    “Inilah yang harus dilaksanakan oleh mereka yang tekun dalam kebaikan. Dan telah mencapai ketenangan bathin. Ia harus pandai, jujur, sangat jujur. Rendah hati, lemah lembut, tiada sombong. Merasa puas, mudah dirawat Tiada sibuk, sederhana hidupnya Tenang indrianya, selalu waspada Tahu malu, tidak melekat pada keluarga Tak berbuat kesalahan walaupun kecil yang dapat dicela oleh para Bijaksana.”

    ” Hendaklah ia selalu berpikir: Semoga semua makhluk sejahtera dan damai, semoga semua makhluk berbahagia Makhluk apapun juga Baik yang lemah atau yang kuat tanpa kecuali Yang panjang atau yang besar yang sedang, pendek, kurus atau gemuk Yang terlihat atau tidak terlihat Yang jauh maupun yang dekat Yang telah terlahir atau yang akan dilahirkan Semoga semuanya berbahagia”

    ” Jangan menipu orang lain Atau menghina siapa saja, Janganlah karena marah dan benci Mengharapkan orang lain mendapat celaka Bagaikan seorang ibu mempertaruhkan nyawanya Untuk melindungi anaknya yang tunggal Demikianlah terhadap semua makhluk Dipancarkannya pikiran kasih sayang tanpa batas Hendaknya pikiran kasih sayang Dipancarkannya ke seluruh penjuru alam, ke atas, ke bawah, dan ke sekeliling Tanpa rintangan, tanpa benci, atau permusuhan Sewaktu berdiri, berjalan, atau duduk Atau berbaring sesaat sebelum tidur Ia tekun mengembangkan kesadaran ini Yang dinamakan “Kediaman Brahma” Tidak berpegang pada pandangan yang salah Tekun dalam sila dan memiliki kebijaksanaan, Hingga bathinnya bersih dari segala nafsu indria Maka ia tak akan lahir lagi dalam rahim manapun juga”

  2. Sunyataan Says:

    I agreeeeeeeeeee.absolute perfect

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: